Saṃyuktāgama
117. Kotbah tentang Dengan Arus-Arus Kekotoran Batin dan Rintangan-Rintangan
Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Gunung Makula, pada waktu itu bersama dengan seorang bhikkhu pelayan bernama Rādha.
Kemudian sekelompok pengembara ajaran lain mendekati Rādha. Setelah bertukar salam ramah tamah, mereka mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi. Mereka bertanya kepada Yang Mulia Rādha:
“Demi tujuan apakah engkau telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih kehidupan suci di bawah Pertapa Gotama?”
Rādha menjawab: “Aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih kehidupan suci di bawah Sang Tathāgata demi tujuan pelenyapan, memudarnya, lenyapnya, penenangan, dan penghancuran arus-arus [kekotoran batin], rintangan-rintangan, demam, kekesalan, kekhawatiran, dan kesedihan sehubungan dengan bentuk jasmani. [Aku telah pergi meninggalkan keduniawian … ] demi tujuan pelenyapan, memudarnya, lenyapnya, penenangan, dan penghancuran arus-arus [kekotoran batin], rintangan-rintangan, demam, kekesalan, kekhawatiran, dan kesedihan sehubungan perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran.”
Kemudian para pengembara ajaran lain, setelah mendengarkan hal ini, tidak bergembira dalam pikiran mereka. Mereka bangkit dari tempat duduk mereka, menyalahkannya, dan pergi.
Pada waktu itu Rādha, setelah bangkit dari meditasi pada sore hari, mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, dan mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi. Ia secara lengkap menceritakan kepada Sang Buddha tentang hal di atas, [dengan berkata]: “Sang Bhagavā, dengan apa yang kukatakan, apakah aku tidak salah menggambarkan Sang Bhagavā? Ketika dengan dekat ditanyai oleh orang lain, apakah aku tidak akan dicela dan jatuh ke dalam suatu kesempatan untuk dikalahkan? Apakah aku berkata seperti yang seharusnya kukatakan? Apakah aku tidak berkata sesuai dengan Dharma, apakah aku tidak mengatakan Dharma sesuai dengan Dharma?”
Sang Buddha berkata kepada Rādha: “Engkau berkata dengan benar. Engkau tidak salah menggambarkan Sang Tathāgata. Ketika dengan dekat ditanyai oleh orang lain, engkau tidak akan dicela dan jatuh ke dalam suatu kesempatan untuk dikalahkan. Engkau berkata seperti yang seharusnya engkau katakan. Engkau berkata sesuai dengan Dharma, dengan mengatakan Dharma sesuai dengan Dharma. Mengapa demikian? Rādha, seseorang pergi meninggalkan keduniawian di bawah Sang Tathāgata demi tujuan pelenyapan, memudarnya, lenyapnya, penenangan, dan penghancuran arus-arus [kekotoran batin], rintangan-rintangan, demam, kekesalan, kekhawatiran, dan kesedihan sehubungan dengan bentuk jasmani. [Seseorang pergi meninggalkan keduniawian … ] demi tujuan pelenyapan, memudarnya, lenyapnya, penenangan, dan penghancuran arus-arus [kekotoran batin], rintangan-rintangan, demam, kekesalan, kekhawatiran, dan kesedihan sehubungan perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran.”
Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bhikkhu Rādha bergembira dan menerimanya dengan hormat.