Saṃyuktāgama

174. Kotbah tentang Mencari Sang Guru Agung

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Demi tujuan melenyapkan hal-hal yang tidak kekal, seseorang seharusnya mencari sang guru agung. Apakah hal-hal yang tidak kekal? Yaitu, bentuk jasmani adalah hal yang tidak kekal. Demi tujuan melenyapkan hal itu, seseorang seharusnya mencari sang guru agung.

Perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran juga seperti ini.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Dengan cara yang sama [demi tujuan melenyapkan hal-hal yang tidak kekal dari] masa lampau … masa depan … masa sekarang … masa lampau dan masa depan …. masa lampau dan masa sekarang … masa depan dan masa sekarang … masa lampau, masa depan, dan masa sekarang, seseorang seharusnya mencari sang guru agung. Delapan jenis kotbah [seluruhnya] dengan cara yang sama.

[Seperti halnya seseorang mencari sang guru agung, dengan cara yang sama] dalam berbagai cara [kotbah-kotbah seharusnya diulangi] tentang: “seseorang yang mengajar sesuai dengan itu”, “seseorang yang damai”, “seseorang yang sangat damai”, “seseorang yang sepenuhnya damai”, “seseorang yang telah menguasai”, “seseorang yang telah sepenuhnya menguasai”, “seseorang yang menjelaskan”, “seseorang yang secara luas menjelaskan”, “seseorang yang menjelaskan sesuai dengan itu”, “seseorang yang adalah seorang sahabat kedua”, “sang sahabat sejati”, “seseorang yang dapat dipercaya”, “seseorang dengan empati”, “seseorang yang berbelas kasih”, “seseorang yang mulia dalam makna”, “seseorang yang mulia dalam kenyamanan”, “seseorang [yang mulia dalam] kebahagiaan”, “seseorang yang mulia dalam pengalaman”, “seseorang yang mulia dalam ketenangan”, “seseorang yang mengharapkan [kesejahteraan orang lain]”, “seseorang yang bersemangat”, “seseorang yang terampil”, “seseorang yang sangat bijaksana”, “seseorang yang sungguh bijaksana”, “seseorang yang kokoh”, “seseorang yang kuat”, “seseorang yang tekun”, “seseorang yang berani”, “seseorang yang secara jasmani dan batin berani”, “seseorang yang sulit ditaklukkan”, “seseorang yang mau menerima”, “seseorang yang terus-menerus melatih dirinya sendiri”, “seseorang yang tidak lalai”, “seseorang yang berlatih”, “seseorang yang penuh perhatian”, “seseorang yang penuh kesadaran”, “seseorang yang tercerahkan”, “seseorang yang memahami”, “seseorang yang mengetahui”, “seseorang yang bijaksana”, “seseorang yang fasih berbicara”, “seseorang yang penuh pertimbangan”, “seseorang yang menjalankan kehidupan suci”, “seseorang dengan [landasan-landasan] kekuatan batin”, “seseorang yang berkembang dalam perhatian”, “seseorang dengan usaha benar”, “seseorang dengan [lima] indria”, “seseorang dengan [lima] kekuatan”, “seseorang dengan [tujuh faktor] pencerahan”, “seseorang dengan [delapan faktor] sang jalan”, “seseorang dengan ketenangan”, “seseorang dengan pandangan terang”, “seseorang dengan perhatian terhadap tubuh”, “seseorang dengan perenungan benar”, delapan kotbah juga diulangi masing-masing seperti di atas.

Seperti halnya “makna melenyapkan [apa yang tidak kekal]”, dengan cara yang sama “makna memahami [apa yang tidak kekal]”, “makna memadamkan [apa yang tidak kekal]”, “makna memuntahkan keluar [apa yang tidak kekal]”, “makna mengakhiri [apa yang tidak kekal]”, “makna melepaskan [apa yang tidak kekal]” juga seperti ini.