Saṃyuktāgama
187. Kotbah tentang Satu Hal
Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Karena dipenuhi dengan satu hal, seseorang tidak lagi dapat memahami bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal, memahami bahwa perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran adalah tidak kekal. Apakah satu hal itu di mana seseorang dipenuhi dengannya? Ini adalah nafsu keinginan.
“Dengan tidak dipenuhi dengan satu hal, seseorang dapat memahami bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal, memahami bahwa perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran adalah tidak kekal. Apakah satu hal itu di mana seseorang dipenuhi dengannya? Ini adalah dipenuhi dengan ketiadaan nafsu keinginan. Seseorang yang tanpa kondisi dari nafsu keinginan dapat memahami bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal, dapat memahami bahwa perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran adalah tidak kekal.”
Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Seperti halnya “dipenuhi dan tidak dipenuhi”, dengan cara yang sama untuk “memahami dan tidak memahami”, “akrab dengan dan tidak akrab dengan”, “memiliki pengetahuan dan tidak memiliki pengetahuan”, “sadar dan tidak sadar”, “mengamati dan tidak mengamati”, “mengukur dan tidak mengukur”, “dihalangi oleh dan tidak dihalangi oleh”, “menyebarluaskan dan tidak menyebarluaskan”, “ditutupi oleh dan tidak ditutupi”, “dilindungi oleh dan tidak dilindungi oleh”.
Seperti halnya “memahami”, dengan cara yang sama untuk “mengetahui”, “memahami”, “mengalami”, “mencari”, “membedakan”, “menyentuh”, “merealisasi” juga seperti ini.
Seperti halnya “nafsu”, dengan cara yang sama untuk “kebencian”, “delusi”, “kemarahan”, “permusuhan”, “fitnahan”, “genggaman [dogmatis]”, “keirihatian”, “ketamakan”, “penipuan”, “bujuk rayu”, “ketiadaan malu”, “ketiadaan takut melakukan kesalahan”, “keangkuhan”, “keangkuhan lebih tinggi”, “keangkuhan berlebihan”, “keangkuhan-aku”, “keangkuhan luar biasa”, “kesombongan palsu”, “keangkuhan lebih rendah”, “kesombongan”, “kelalaian”, “kecongkakan”, “kepura-puraan yang bengkok”, “mencari keuntungan”, “menarik keuntungan”, “keinginan jahat”, “banyak keinginan”, “keinginan terus-menerus”, “tidak menghormati”, “ucapan jahat”, “teman jahat”, “ketidaksabaran”, “merusak”, “nafsu rendah”, “nafsu jahat”, “pandangan identitas” (sakkāyadiṭṭhi), “pandangan ekstrem”, “pandangan salah”, “kemelekatan pada pandangan”, “kemelekatan pada aturan-aturan”, “keinginan”, “kebencian”, “kelambanan dan kemalasan”, “kegelisahan dan kekhawatiran”, “keragu-raguan”, “dibingungkan oleh kegelisahan”, “kebodohan”, “kekejaman”, “kemalasan”, “kebingungan”, “ketiadaan pengamatan seksama”, “ketumpulan fisik”, “ketidakjujuran”, “ketiadaan kelembutan”, “ketiadaan keunggulan”, “pikiran nafsu”, “pikiran kebencian”, “pikiran kekejaman”, “pikiran terhadap sanak keluarga sendiri”, “pikiran terhadap negeri sendiri”, “pikiran yang mengolok-olok”, “pikiran menginginkan keluarga orang lain”, “kesedihan”, “kesengsaraan”, dengan masing-masing dari keadaan-keadaan ini sampai dengan “dengan dilindungi seseorang tidak dapat memahami lenyapnya bentuk jasmani.”
“Apakah satu hal itu? Ini adalah kesengsaraan. Karena dilindungi oleh kesengsaraan, seseorang tidak dapat merealisasi lenyapnya dan padamnya bentuk jasmani, seseorang tidak dapat merealisasi lenyapnya dan padamnya perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran.
“Karena tidak dilindungi oleh satu hal, seseorang tidak dapat merealisasi lenyapnya dan padamnya bentuk jasmani, seseorang tidak dapat merealisasi lenyapnya dan padamnya perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran.
“Apakah satu hal itu? Ini adalah kesengsaraan. Karena tidak dilindungi oleh satu hal ini, seseorang dapat merealisasi lenyapnya dan padamnya bentuk jasmani, seseorang dapat merealisasi lenyapnya dan padamnya perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran.”
Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.