Saṃyuktāgama
217. Kotbah Kedua tentang Samudera Besar
Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Apa yang disebut samudera adalah apa yang dibicarakan orang-orang bodoh, ini bukan apa yang dibicarakan orang-orang mulia. Ini hanyalah lebih banyak atau lebih sedikit air.
“Bagi seseorang mata adalah samudera raya, yang gelombangnya adalah bentuk itu. Jika seseorang dapat menahan gelombang bentuk, ia menyeberangi samudera raya mata dan selesai dengan gelombang dan pusaran airnya, dan dengan para binatang melata yang jahat dan para setan wanitanya.
“Bagi seseorang telinga … hidung … lidah … badan … pikiran adalah samudera raya, yang gelombangnya adalah suara … bebauan … rasa … sentuhan … objek pikiran. Jika seseorang dapat menahan gelombang objek pikiran, ia dapat menyeberangi samudera raya pikiran dan selesai dengan gelombang dan pusaran airnya, dan dengan para binatang melata yang jahat dan para setan wanitanya.”
Pada waktu itu Sang Buddha mengucapkan sebuah syair:
“Samudera raya dengan gelombangnya yang besar,
Para binatang melata yang jahat dan para setan yang menakutkan,
Adalah sulit untuk diseberangi. Seseorang yang dapat menyeberanginya
Bebas dari airnya tanpa sisa.
“Dapat meninggalkan semua dukkha,
Seseorang tidak lagi menyambut kelangsungan yang lebih jauh,
Selamanya [telah mencapai] Nirvāṇa,
Dan tidak akan pernah lagi lalai.”
Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.