Saṃyuktāgama

227. Kotbah Kedua tentang Memikirkan

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Memikirkan adalah suatu penyakit, memikirkan adalah suatu bisul, memikirkan adalah suatu duri. Karena berkembang dalam ketiadaan pemikiran, Sang Tathāgata bebas dari penyakit, bebas dari bisul, bebas dari duri.

“Oleh sebab itu seorang bhikkhu, yang berkeinginan untuk mencari berkembangnya dalam ketiadaan pemikiran, yang bebas dari penyakit, bebas dari bisul, bebas dari duri, bhikkhu itu seharusnya tidak memikirkan mata sebagai suatu diri, sebagai milik suatu diri, dan ia seharusnya tidak memikirkan mata sebagai [milik] yang lain. Ia seharusnya tidak memikirkan bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata dan dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, sebagai suatu diri, sebagai milik suatu diri atau sebagai [milik] yang lain.

“Telinga … hidung … lidah … badan … pikiran juga seperti itu.”

“Para bhikkhu, seseorang yang tidak memikirkan dengan cara ini tidak melekat pada apa pun. Karena tidak melekat pada apa pun, ia tidak terikat pada apa pun. Karena tidak terikat pada apa pun, ia secara pribadi merealisasi Nirvāṇa, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya sehubungan dengan mata, dst., masing-masing topik yang tersisa diulangi dengan cara ini.