Saṃyuktāgama

261. Kotbah tentang Puṇṇa

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Yang Mulia Ānanda sedang berdiam di Kosambī di Taman Ghosita. Kemudian Yang Mulia Ānanda berkata kepada para bhikkhu: “Ketika baru saja ditahbiskan, Yang Mulia Puṇṇa Mantāniputta sering memberikanku ajaran yang mendalam, dengan mengatakan seperti ini:

‘Ānanda, adalah dengan melekat pada keadaan-keadan di mana seseorang membayangkan ‘Aku adalah ini’, bukan tanpa melekat pada keadaan-keadaan. Ānanda, dengan melekat pada keadaan-keadaan apakah seseorang membayangkan ‘Aku adalah ini’, bukan tanpa melekat padanya? Dengan melekat pada bentuk jasmani seseorang melekat padanya sebagai ‘Aku adalah ini’, bukan tanpa melekat padanya. Dengan melekat pada perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran seseorang melekat padanya sebagai ‘Aku adalah ini’, bukan tanpa melekat padanya.

‘Seperti halnya seseorang memegang sebuah cermin bersih atau air bersih [dalam sebuah mangkuk sebagai sebuah] cermin pada tangannya dan melekat padanya untuk melihat wajahnya sendiri, yang melihat karena melekat pada [cermin itu], bukan tanpa melekat padanya.

‘Oleh karena itu, Ānanda, dengan melekat pada bentuk jasmani seseorang melekat padanya dengan membayangkannya sebagai ‘Aku adalah ini’, bukan tanpa melekatnya. Dengan melekat pada perasaan… bentukan… kesadaran seseorang melekat padanya dengan membayangkannya sebagai ‘Aku adalah ini’, bukan tanpa melekat padanya. Mengapa demikian?

‘Ānanda, apakah bentuk jasmani kekal atau tidak kekal?’

“[Aku] menjawab: ‘Tidak kekal.’

“[Puṇṇa] bertanya lagi: ‘Apakah yang tidak kekal, apakah ia dukkha?’

“[Aku] menjawab: ‘Dukkha.’

“[Puṇṇa] bertanya lagi: ‘Apakah yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah-ubah, apakah seorang siswa mulia di sini lebih jauh membayangkannya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?’

“[Aku] menjawab: ‘Tidak.’

“[Puṇṇa bertanya lagi]: ‘Dengan cara yang sama perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, apakah ia kekal atau tidak kekal?’

“[Aku] menjawab: ‘Tidak kekal.’

“[Puṇṇa] bertanya lagi: ‘Apakah yang tidak kekal, apakah ia dukkha?’

“[Aku] menjawab: ‘Dukkha.’

“[Puṇṇa] bertanya lagi: ‘Apakah yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah-ubah, apakah seorang siswa mulia di sini lebih jauh membayangkannya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?’

“[Aku] menjawab: ‘Tidak.’

“[Puṇṇa berkata]: ‘Ānanda, oleh karena itu, [apa pun] bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Dengan cara yang sama [apa pun] perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua itu bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri ataupun diri] ada [di dalamnya]. Seseorang memahaminya sebagaimana adanya dan menyelidikinya sebagaimana adanya.

‘Seorang siswa mulia yang merenungkan seperti ini membangkitkan kekecewaan sehubungan dengan bentuk jasmani, bebas dari keinginan terhadapnya dan menjadi terbebaskan, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’ Dengan cara yang sama [seorang siswa mulia] membangkitkan kekecewaan sehubungan dengan perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, bebas dari keinginan terhadapnya dan menjadi terbebaskan, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’

“Para bhikkhu, kalian harus mengetahui bahwa Yang Mulia [Puṇṇa] sangat banyak memberikan manfaat bagiku. Ketika aku telah mendengarkan ajaran dari Yang Mulia itu, aku mencapai mata Dharma yang murni yang sedikit noda [batin]-nya dan bebas dari debu [batin]. Sejak saat itu aku sering berkata kepada empat perkumpulan dengan bergantung pada ajaran ini, tanpa menyebutkan apa yang berasal dari para pertapa, brahmana dan [pertapa] pengembara penganut ajaran menyimpang lainnya.”