Saṃyuktāgama
263. Kotbah tentang Apa yang Seharusnya Dikatakan
Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di negeri Kuru, di desa Kammāsadamma.
Pada waktu itu Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Aku [katakan] bahwa pelenyapan arus-arus [kekotoran batin] dicapai berdasarkan pengetahuan dan penglihatan, bukan tanpa pengetahuan dan penglihatan. Bagaimanakah bahwa pelenyapan arus-arus [kekotoran batin] dicapai berdasarkan pengetahuan dan penglihatan, bukan tanpa pengetahuan dan penglihatan? Yaitu, [dengan mengetahui dan melihat bahwa]: ‘Inilah bentuk jasmani, inilah munculnya bentuk jasmani, inilah lenyapnya bentuk jasmani; inilah perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, inilah munculnya kesadaran, inilah lenyapnya kesadaran.”
“Tanpa mengembangkan cara-cara yang membawa keberhasilan, tetapi [seorang bhikkhu] membuat aspirasi batin: ‘Semoga aku melenyapkan arus-arus [kekotoran batin] dan semoga pikiranku mencapai pembebasan’ – seharusnya diketahui bahwa seorang bhikkhu yang demikian pasti tidak dapat mencapai pelenyapan arus-arus [kekotoran batin] dan terbebaskan. Mengapa demikian? Ini karena tidak mengembangkan. Tidak mengembangkan apakah? Yaitu, tidak mengembangkan penegakan perhatian, usaha benar, landasan untuk kekuatan batin, indria-indria, kekuatan-kekuatan, [faktor-faktor] pencerahan, dan jalan [mulia berunsur delapan].”
“Seperti halnya seekor ayam betina yang mengeram menelurkan banyak telur, tetapi tidak dapat memberikan tempat perlindungan dan mengeraminya, mengatur perubahan suhunya pada waktu yang tepat. Tetapi ia berharap: ‘Semoga anak-anak ayam dengan paruh dan cakarnya mematuk telur dan menetas dengan sendirinya, muncul dengan selamat dari kulit telur itu.’ Seharusnya diketahui bahwa anak-anak ayam tidak memiliki kekuatan mereka sendiri yang dapat memungkinkan mereka untuk muncul dengan selamat dari kulit telur itu dengan paruh dan cakar mereka. Mengapa demikian? Ini karena sang induk ayam tidak dapat memberikan tempat perlindungan dan mengerami mereka, mengatur suhunya pada waktu yang tepat dan [oleh karenanya] merawat anak-anak ayam.
“Dengan cara yang sama, tanpa bersemangat mengembangkan apa yang membawa keberhasilan, tetapi seorang bhikkhu berharap: ‘Semoga aku mencapai pelenyapan arus-arus [kekotoran batin] dan terbebaskan’ – tidak mungkin [baginya untuk mencapai hal itu]. Mengapa demikian? Ini karena tidak mengembangkan. Tidak mengembangkan apakah? Yaitu, tidak mengembangkan penegakan perhatian, usaha benar, landasan untuk kekuatan batin, indria-indria, kekuatan-kekuatan, [faktor-faktor] pencerahan, dan jalan [mulia berunsur delapan].
“Jika seorang bhikkhu mengembangkan apa yang membawa keberhasilan, walaupun ia tidak berharap: ‘Semoga aku melenyapkan arus-arus [kekotoran batin] dan terbebaskan’, tetapi seorang bhikkhu yang demikian akan dengan sendirinya melenyapkan arus-arus dan pikirannya akan mencapai pembebasan. Mengapa demikian? Ini karena mengembangkan. Mengembangkan apakah? Yaitu, mengembangkan penegakan perhatian, usaha benar, landasan untuk kekuatan batin, indria-indria, kekuatan-kekuatan, [faktor-faktor] pencerahan, dan jalan [mulia berunsur delapan].
“Seperti halnya seekor ayam betina yang mengeram yang dengan benar menyediakan telur-telurnya dengan memberikannya tempat perlindungan dan mengeraminya, dengan benar mengatur suhunya pada waktu yang tepat. Bahkan jika ia tidak mengharapkan agar anak ayam keluar dengan sendirinya dengan cara mematuk kulit telur itu, meskipun demikian anak ayam akan dapat muncul dengan selamat dari kulit telur itu dengan cara mereka sendiri. Mengapa demikian? Ini karena ayam betina itu telah memberikan tempat perlindungan dan mengeraminya, dengan benar mengatur suhunya pada waktu yang tepat.
“Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu yang dengan benar mengembangkan cara-cara, bahkan jika ia tidak mengharapkan untuk melenyapkan arus-arus [kekotoran batin] dan terbebaskan, tetapi seorang bhikkhu yang demikian akan dengan sendirinya melenyapkan arus-arus [kekotoran batin] dan pikirannya akan mencapai pembebasan. Mengapa demikian? Ini karena mengembangkan. Mengembangkan apakah? Yaitu, mengembangkan penegakan perhatian, usaha benar, landasan untuk kekuatan batin, indria-indria, kekuatan-kekuatan, [faktor-faktor] pencerahan, dan jalan [mulia berunsur delapan].
“Seperti halnya seorang ahli yang terampil atau seorang murid dari ahli yang terampil yang [secara teratur] memegang pegangan sebuah kapak kayu dengan tangannya. Dengan memegangnya terus-menerus, jejak-jejak kecil tangan dan jarinya menjadi perlahan-lahan terlihat di [banyak] tempat. Bahkan jika ia tidak menyadari jejak-jejak kecil pada pegangan kapak kayu itu, kesan-kesan itu menjadi terlihat di [banyak] tempat.
“Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu yang dengan bersemangat mengembangkan apa yang membawa keberhasilan tidak mengetahui dan melihat dengan sendirinya: ‘Hari ini sebanyak ini dari arus-arus [kekotoran batin] telah dilenyapkan, besok sebanyak ini arus-arus [kekotoran batin] akan dilenyapkan.’ Tetapi bhikkhu itu mengetahui bahwa arus-arus [kekotoran batin] sedang dilenyapkan. Mengapa demikian? Ini karena mengembangkan. Mengembangkan apakah? Yaitu, mengembangkan penegakan perhatian, usaha benar, landasan untuk kekuatan batin, indria-indria, kekuatan-kekuatan, [faktor-faktor] pencerahan, dan jalan [mulia berunsur delapan].
“Seperti halnya sebuah kapal besar yang [dikaitkan] pada tepi pantai selama musim panas. Selama enam bulan ditiup oleh angin dan terkena matahari, tali-temalinya perlahan-lahan hancur.
“Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu yang dengan bersemangat mengembangkan apa yang membawa keberhasilan akan perlahan-lahan mencapai pembebasan dari semua belenggu, kecenderungan yang mendasari, kekotoran, dan kekusutan. Mengapa demikian? Ini karena dengan benar mengembangkan. Mengembangkan apakah? Yaitu, mengembangkan penegakan perhatian, usaha benar, landasan untuk kekuatan batin, indria-indria, kekuatan-kekuatan, [faktor-faktor] pencerahan, dan jalan [mulia berunsur delapan].”
Ketika ajaran ini diberikan, enam puluh bhikkhu, dengan tidak membangkitkan arus-arus [kekotoran batin] dalam pikiran mereka. Ketika Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, dengan mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.