Saṃyuktāgama
267. Kotbah Kedua tentang Tidak Mengetahui
Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Saṃsāra adalah tanpa sebuah awal, perputaran selama waktu yang lama dari makhluk-makhluk hidup, yang dirintangi oleh ketidaktahuan dan terikat oleh belenggu ketagihan, tanpa memahami awal mula dukkha ini.
“Para bhikkhu, seperti halnya seekor anjing yang diikat pada sebatang tonggak dengan seutas tali. Karena belenggu itu tidak berat, [anjing itu] berputar-putar di sekitar tonggak itu; apakah berdiri atau berbaring, ia tidak terpisahkan dari tonggak itu.
“Dengan cara yang sama makhluk hidup yang bodoh yang sehubungan dengan bentuk jasmani tidak terpisahkan dari nafsu keinginan terhadapnya, tidak terpisahkan dari ketagihan terhadapnya, tidak terpisahkan dari merindukannya, tidak terpisahkan dari kehausan terhadapnya, berputar-putar di sekitar bentuk jasmani. Dengan mengikuti dan berputar-putar di sekitar bentuk jasmani, apakah berdiri atau berbaring, ia tidak terpisahkan dari bentuk jasmani. Dengan cara yang sama [ia berputar-putar di sekitar] perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, apakah berdiri atau berbaring, ia tidak terpisahkan dari kesadaran.
“Para bhikkhu, kalian seharusnya dengan baik memberikan pengamatan pada dan menyelidiki pikiran. Mengapa demikian? Ini karena selama waktu yang lama pikiran telah terkotori oleh nafsu keinginan, oleh kebencian, dan oleh delusi. Para bhikkhu, karena pikiran dirudung [penderitaan], makhluk-makhluk hidup dirudung [penderitaan]; karena pikiran dimurnikan, makhluk-makhluk hidup dimurnikan.
“Para bhikhu, Aku tidak melihat satu bentuk pun yang beranekaragam seperti warna yang berbintik-bintik pada seekor burung. Pikiran bahkan lebih [beranekaragam]. Mengapa demikian? Karena keanekaragaman pikiran mereka, hewan-hewan memiliki beranekaragam warna.
“Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian seharusnya dengan baik memberikan pengamatan pada dan menyelidiki pikiran. Para bhikkhu, selama waktu yang lama pikiran telah terkotori oleh nafsu keinginan, oleh kebencian, dan oleh delusi. Para bhikkhu, kalian seharusnya mengetahui bahwa karena pikiran dirudung [penderitaan], makhluk-makhluk hidup dirudung [penderitaan]; karena pikiran dimurnikan, makhluk-makhluk hidup dimurnikan.
“Apakah kalian pernah melihat warna-warna yang beranekaragam dan berbeda-beda dari seekor burung caraṇa?
[Para bhikkhu] menjawab: “Kami pernah melihatnya sebelumnya, Sang Bhagavā.”
Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Bagaikan warna-warna yang beranekaragam dan berbeda-beda dari seekor burung caraṇa, Aku katakan pikiran juga beranekaragam dan berbeda-beda seperti itu. Mengapa demikian? Karena keanekaragaman dari pikirannya, sehingga burung caraṇa memiliki beranekaragam warna.
“Oleh karena itu, kalian seharusnya dengan baik menyelidiki dan memberikan pengamatan pada pikiran, yang selama waktu yang lama pikiran telah terkotori oleh beranekaragam nafsu keinginan, oleh kebencian, dan oleh delusi. Karena pikiran dirudung [penderitaan], makhluk-makhluk hidup dirudung [penderitaan]; karena pikiran dimurnikan, makhluk-makhluk hidup dimurnikan.
“Seperti halnya seorang pelukis yang ahli atau murid dari seorang pelukis yang ahli, setelah dengan baik mempersiapkan latar belakang yang belum diberi warna dan dilengkapi dengan berbagai warna, menurut keinginannya melukis beranekaragam jenis gambar.
“Para bhikkhu, dengan cara yang sama makhluk hidup yang bodoh tidak memahami sebagaimana adanya bentuk jasmani, munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dari bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Karena tidak memahami sebagaimana adanya bentuk jasmani, ia menyenangi dan melekat pada bentuk jasmani. Karena menyenangi dan melekat pada bentuk jasmani, ia lebih lanjut membangkitkan [terjadinya] bentuk jasmani masa depan.
“Dengan cara yang sama seseorang yang bodoh tidak memahami sebagaimana adanya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, munculnya kesadaran, lenyapnya kesadaran, kepuasan dari kesadaran, bahaya dalam kesadaran, dan jalan keluar dari kesadaran. Karena tidak memahaminya sebagaimana adanya, ia menyenangi dan melekat pada kesadaran. Karena menyenangi dan melekat pada kesadaran, ia lebih lanjut membangkitkan [terjadinya] kesadaran masa depan.
“Jika ia membangkitkan [terjadinya] bentuk… perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran masa depan, [maka] ia tidak akan terbebaskan dari bentuk jasmani… perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, Aku katakan ia tidak akan terbebaskan dari kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan.
“Seorang siswa mulia yang terpelajar memahami sebagaimana adanya bentuk jasmani, munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dari bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Karena memahaminya sebagaimana adanya, ia tidak menyenangi dan tidak melekat pada bentuk jasmani. Karena tidak menyenangi dan tidak melekat padanya, ia tidak membangkitkan [terjadinya] bentuk jasmani masa depan.
“Ia memahami sebagaimana adanya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, munculnya kesadaran, lenyapnya kesadaran, kepuasan dari kesadaran, bahaya dalam kesadaran, dan jalan keluar dari kesadaran. Karena memahaminya sebagaimana adanya, ia tidak menyenangi dan tidak melekat pada kesadaran. Karena tidak menyenangi dan tidak melekat padanya, ia tidak membangkitkan [terjadinya] kesadaran masa depan.
“Karena tidak menyenangi dan tidak melekat pada bentuk jasmani… perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, ia mencapai pembebasan dari bentuk jasmani, mencapai pembebasan dari perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, Aku katakan ia sama terbebaskan dari kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan.”
Ketika Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.